Kepulan asap masih terlihat di lahan gambut Desa Merbau saat puluhan petugas gabungan berjibaku melakukan pendinginan kebakaran hutan.
Oleh: Joe
Kepulan asap masih terlihat membumbung di atas hamparan lahan gambut Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan. Bau hangus tanah terbakar menyelimuti udara, sementara puluhan petugas terus bergerak menyusuri titik-titik api yang tersisa.

Di Parit Koperasi, kawasan yang menjadi lokasi kebakaran, personel gabungan tak henti berjibaku melakukan pendinginan. Sejak dua hari terakhir, mereka bekerja tanpa kenal lelah untuk memastikan bara yang tersembunyi di dalam gambut benar-benar padam.
Kawasan tersebut berada di wilayah teritorial Koramil 03/Bunut. Dari pagi hingga sore, para petugas menyisir lahan yang masih mengeluarkan asap tebal.
Danramil 03/Bunut Kapten Arh Mujiono, mengatakan kebakaran terjadi di Desa Merbau dan saat ini tim gabungan masih fokus pada tahap pendinginan.
“Api sebagian besar sudah padam, tetapi masih ada titik-titik asap yang muncul dari dalam tanah. Karena itu tim masih terus berjibaku melakukan pendinginan,” ujarnya.

Sebanyak sekitar 75 personel diterjunkan dalam penanganan kebakaran tersebut. Mereka terdiri dari enam personel TNI, lima personel kepolisian, 44 anggota Regu Pemadam Kebakaran PT Arara Abadi, 15 karyawan Koperasi RTBS, serta lima anggota Masyarakat Peduli Api (MPA).
Di tengah medan yang sulit, berbagai peralatan dikerahkan untuk menekan sisa-sisa api. Sebuah helikopter water bombing terlihat beberapa kali menjatuhkan air dari udara. Sementara di darat, petugas mengoperasikan mesin pemadam dan menggelar puluhan gulung selang menuju titik-titik panas.
Mesin ministrek dan mesin VE20 bekerja tanpa henti. Air dialirkan melalui selang isap dan selang buang yang membentang panjang di atas tanah gambut yang kering.
Namun memadamkan api di lahan gambut bukan perkara mudah. Api sering kali bersembunyi di bawah permukaan tanah dan muncul kembali dalam bentuk asap tebal.
Menurut Mujiono, kondisi lahan gambut yang kering dan tebal menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan. Selain itu, sumber air yang terbatas serta angin yang cukup kencang membuat proses pemadaman semakin sulit.
Meski demikian, tim gabungan terus berupaya memastikan kebakaran tidak kembali meluas.
“Yang paling penting sekarang memastikan bara di bawah tanah benar-benar padam,” katanya.
Di sela-sela upaya pemadaman, ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Terlebih wilayah tersebut mulai memasuki musim kemarau yang rawan memicu kebakaran.
“Kesadaran masyarakat sangat penting. Jangan membuka lahan dengan cara membakar karena risikonya sangat besar,” ujar Mujiono.
Bagi para petugas di lapangan, memadamkan api bukan hanya soal pekerjaan. Ini adalah upaya menjaga hutan, melindungi lingkungan, dan memastikan desa-desa di sekitar tetap aman dari ancaman kebakaran yang lebih besar.
