Oleh : Joe
Ketiadaan petugas di Puskesmas Bunut saat pasien kecelakaan datang memicu sorotan publik, DPRD mendesak evaluasi layanan demi menjamin kesiapsiagaan tenaga kesehatan setiap waktu
Pagi itu, suasana di Puskesmas Bunut seharusnya menjadi tempat pertama harapan disematkan. Namun, bagi seorang korban kecelakaan lalu lintas di kawasan Bono, harapan itu sempat tertunda bahkan nyaris hilang ketika tak satu pun petugas kesehatan terlihat berjaga.

Sebuah video singkat berdurasi 29 detik yang beredar di media sosial merekam kegelisahan warga. Suara perekam terdengar cemas, bahkan nyaris putus asa. Ia menyuarakan sesuatu yang mestinya tak terjadi di fasilitas layanan kesehatan dasar: ketiadaan petugas saat kondisi darurat.
“Tolong pemerintah terkait, kecelakaan satupun petugas piket tidak ada…,” ucapnya dalam video yang kemudian memicu perhatian luas publik.
Di balik rekaman singkat itu, ada situasi yang lebih panjang. Seorang korban dengan patah tulang dibawa tergesa-gesa oleh warga menuju puskesmas terdekat. Dalam bayangan mereka, tenaga medis akan sigap memberikan pertolongan pertama. Namun yang ditemui justru ruang yang lengang.
Waktu terasa berjalan lebih lambat. Warga yang mengantar hanya bisa menunggu, diliputi kecemasan. Dalam kondisi seperti itu, setiap menit menjadi sangat berarti. Hingga akhirnya, setelah beberapa waktu, petugas kesehatan datang dan penanganan pun diberikan.

Peristiwa ini bukan sekadar soal keterlambatan, melainkan tentang kepercayaan. Puskesmas, sebagai garda terdepan layanan kesehatan masyarakat, diharapkan selalu hadir—terlebih dalam kondisi darurat.
Sorotan pun datang dari anggota DPRD Kabupaten Pelalawan, Asnol Mubarack. Ia turun langsung ke lokasi, melihat kondisi yang terjadi, sekaligus memastikan adanya langkah perbaikan ke depan.
Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi evaluasi serius bagi Dinas Kesehatan setempat. Ia menekankan bahwa pelayanan kesehatan tidak boleh bergantung pada situasi, melainkan harus selalu siap dalam kondisi apa pun.
“Jangan sampai masyarakat yang membutuhkan pertolongan justru tidak mendapatkan layanan karena tidak adanya petugas,” ujarnya tegas.
Di tengah perhatian publik yang menguat, masyarakat kini menaruh harapan besar pada perubahan. Bagi mereka, pelayanan kesehatan bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan mendasar yang tak boleh abai.
Peristiwa di Puskesmas Bunut menjadi pengingat bahwa di balik setiap sistem pelayanan, ada nyawa yang dipertaruhkan. Dan pada akhirnya, kehadiran yang sering dianggap sederhana—justru menjadi hal paling berarti.
