OLeh: Adi Suparto
Lagu “Bongkar” karya Iwan Fals yang dirilis pada 1989 menjadi salah satu simbol perlawanan intelektual dan moral terhadap praktik kekuasaan Orde Baru. Ketika krisis multidimensi melanda Indonesia pada 1997–1998, lagu tersebut kembali menggema sebagai penyemangat gerakan mahasiswa di berbagai daerah.
Puncak gerakan itu terjadi pada 21 Mei 1998. Pada hari tersebut, Presiden Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya setelah memimpin Indonesia selama 32 tahun. Kekosongan kekuasaan kemudian diisi melalui pelantikan Wakil Presiden B. J. Habibie sebagai Presiden Republik Indonesia ketiga.
Peristiwa tersebut menandai berakhirnya rezim Orde Baru sekaligus menjadi awal era Reformasi. Secara politik, perubahan itu membuka ruang demokrasi yang lebih luas, termasuk kebebasan berpendapat, kebebasan pers, serta pelaksanaan pemilihan umum yang lebih terbuka dan demokratis.
Latar belakang Reformasi tidak dapat dilepaskan dari krisis moneter 1997, gelombang demonstrasi mahasiswa yang meluas, serta Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998. Ketiga faktor tersebut menjadi pemicu runtuhnya legitimasi kekuasaan yang telah bertahan selama lebih dari tiga dekade.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Reformasi, setiap 21 Mei diperingati sebagai Hari Reformasi Nasional. Momentum ini menjadi refleksi kolektif akan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga demokrasi, keadilan, dan kebebasan di Indonesia.
