Spread the love

Bali – Javaexpress.co.id | Setelah insiden kecelakaan tunggal di ruas Jalan Singaraja-Denpasar yang menewaskan lima wisatawan asal China, para pelaku pariwisata di Bali menilai perlu adanya upaya bersama untuk memberi pemahaman lebih luas kepada turis internasional mengenai kondisi Indonesia yang aman, beragam, dan sangat luas. Salah satunya disampaikan Wira (Huang De Wei), tour leader mandarin sekaligus anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali.

Menurut Wira, insiden tersebut memunculkan ketakutan berlebihan di kalangan wisatawan China, seolah-olah kejadian di satu titik berbahaya untuk seluruh Indonesia. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan besar dengan destinasi wisata yang tersebar dari Aceh hingga Sorong.

“Banyak wisatawan langsung menganggap seluruh Indonesia berbahaya. Padahal insiden bisa saja terjadi di mana pun, termasuk di negara

Wira mencontohkan bahwa kejadian di Buleleng tidak berkaitan dengan situasi di daerah wisata populer lainnya. Namun bagi sebagian besar wisatawan China, insiden tersebut langsung memicu pembatalan perjalanan.

lain. Indonesia sangat luas, dan Bali pun jauh dari kota-kota seperti Jakarta, Bandung, atau Batam,” ujar Wira.

Ia menyebut, situasi serupa pernah terjadi pada kerusuhan yang dipicu kekecewaan masyarakat terhadap DPR pada akhir Agustus di beberapa kota besar, termasuk Jakarta. “Hampir semua rombongan tamu China membatalkan perjalanan ke Bali. Kebetulan rombongan saya tetap datang, tapi umumnya mereka langsung cancel,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kecelakaan di Buleleng terjadi karena faktor kelalaian sopir yang bukan warga Bali dan tidak memahami medan jalan yang berkelok dan rawan. Kendaraan yang digunakan, Toyota Hiace berpelat N (Malang), dikemudikan sopir dari Jawa Timur yang diduga terburu-buru mengejar waktu agar wisatawan tiba sebelum matahari terbit untuk menikmati atraksi lumba-lumba di Pantai Lovina.

“Hanya sopir yang WNI, dan dia pun hanya luka lecet. Wisatawan harus sudah siap di kapal pukul enam pagi. Saya selalu menganjurkan tamu untuk menginap dekat lokasi agar lebih aman,” ujar Wira.

Ia menambahkan, sering kali wisatawan memaksa melanjutkan perjalanan panjang dari Bali Selatan menuju Bali Utara tanpa mempertimbangkan risiko kelelahan, kondisi jalan, hingga waktu tempuh yang cukup panjang. “Saya jelaskan baik-baik, lebih aman menginap. Banyak yang tetap memaksa. Padahal jaraknya sangat jauh dan jalurnya menantang,” tuturnya.

Wira berharap pemerintah daerah, pelaku usaha wisata, dan pemandu tur dapat membangun narasi bersama untuk menenangkan wisatawan, terutama dari China, bahwa Indonesia tetap aman dikunjungi. Edukasi ini penting agar peristiwa di satu wilayah tidak menurunkan kepercayaan terhadap destinasi wisata nasional.

“Kita harus bisa menunjukkan bahwa Indonesia luas, beragam, dan aman untuk dikunjungi. Jangan sampai satu insiden membuat citra pariwisata kita terganggu,” ujarnya. (SL)    

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *