Hujan deras di Banawa memicu banjir dan longsor, meruntuhkan rumah, bengkel, dan harapan warga Dusun Petobo yang hidup di tepi sungai.
Oleh: Basir
Hujan turun tanpa jeda sejak Minggu pagi. Di Banawa, hujan bukan lagi sekadar cuaca, melainkan isyarat buruk yang sudah berkali-kali datang membawa kehilangan. Air jatuh dari langit seolah tak memberi waktu bagi tanah untuk bernapas. Sungai pun meluap, mencari jalan sendiri menuju laut, menyeret apa saja yang dilewatinya.

Di Dusun Petobo, Kelurahan Ganti, Sani dan Kamarudin hanya bisa menatap sisa rumah mereka. Dapur yang selama ini menjadi ruang paling hidup tempat api dinyalakan, kopi diseduh, dan cerita keluarga bertukar kini tinggal kenangan. Bengkel motor kecil di samping rumah, sumber penghidupan mereka, rata dengan tanah. Semua habis diseret arus.
“Air datang cepat sekali,” kata Asni istri Kamarudin pelan. Matanya sesekali menatap bekas aliran lumpur yang masih membekas di dinding rumah. Hujan seharian membuat sungai meluap, arusnya tak lagi bisa dikendalikan. Tanah dari perbukitan ikut runtuh, menghantam dapur dan bengkel mereka tanpa peringatan.
Perabot dapur hanyut. Peralatan bengkel kunci-kunci besi, kompresor kecil, onderdil motor lenyap entah ke mana. Yang tersisa hanya lumpur, kayu patah, dan bau tanah basah. “Tidak sempat diselamatkan,” ujar Asni singkat.
Kamarudin menambahkan satu kehilangan lagi. Kebun kecilnya, tak sampai seperempat hektare, yang ditanami kacang dan ubi, ikut diratakan banjir. “Sekitar sepuluh meter persegi,” katanya. Baginya, itu bukan sekadar lahan. Itu cadangan hidup. Dari sanalah dapur tetap menyala ketika bengkel sepi pelanggan. Kini semuanya habis. Kerugian mereka, ditaksir Kamarudin, mencapai puluhan juta rupiah.
Di Petobo, longsor belum sepenuhnya berhenti. Tanah masih terus bergerak perlahan, seolah mencari posisi baru. Setiap hari, tebing kian terkikis, mendekati badan jalan Trans Sulawesi urat nadi yang menghubungkan wilayah-wilayah di pesisir barat Sulawesi Tengah. Retakan di tanah menjadi penanda: bahaya belum pergi.
Warga yang melintas di ruas jalan itu memperlambat kendaraan. Sebagian turun, melihat langsung ke jurang yang kian dalam. Jika hujan kembali turun deras, mereka tahu, bukan hanya rumah warga yang terancam, tetapi juga jalur transportasi utama.
Di tengah kecemasan itu, suara dari gedung wakil rakyat ikut terdengar. Firdaus, anggota DPRD Donggala dari Daerah Pemilihan Banawa dan Banawa Tengah, menyebut peristiwa ini bukan kejadian tunggal. Debit air sungai, katanya, meningkat dari tahun ke tahun. Perubahan pola permukiman turut memperparah keadaan.
“Dulu rumah-rumah penduduk tidak sedekat ini dengan alur sungai,” ujar Firdaus. Lambat laun, ketika air makin besar, dasar tanah terkikis, dan longsor pun tak terhindarkan. Firdaus, yang juga duduk di Komisi III DPRD Donggala, menilai penanganan sungai tak bisa lagi ditunda.
Ia meminta dinas terkait Pekerjaan Umum dan BPBD segera memaksimalkan pembangunan pengaman sungai. Menurutnya, aliran air di Banawa bukan perkara sepele. Jika dibiarkan, bukan mustahil tragedi yang lebih besar akan terjadi. Jalan Trans Sulawesi yang berada di dekat lokasi longsor menjadi taruhan.
Bagi Sani dan Kamarudin, pernyataan itu adalah harapan, meski samar. Yang mereka butuhkan kini bukan sekadar janji pembangunan, tetapi kepastian bahwa bencana serupa tak kembali datang merenggut apa yang tersisa. Sementara hujan masih turun sesekali, mereka membersihkan lumpur, menata puing, dan mencoba berdamai dengan kenyataan.
Di Banawa, hujan telah pergi untuk sementara. Tapi cerita tentang kehilangan masih tertinggal mengalir pelan, seperti sungai yang suatu hari kembali bisa meluap.
