Di ruang kelas sederhana SKH Bina Citra Anak, meja-meja baru datang bersama harapan, saat PT IKPP Serang menyapa pendidikan inklusif di Kragilan.
Oleh : Jariah
Pagi di Sekolah Khusus Bina Citra Anak, Kecamatan Kragilan, Serang, Selasa itu terasa berbeda. Di salah satu ruang kelas, beberapa anak tampak mengelilingi meja-meja kayu yang masih berbau baru. Ada yang mengetuk pelan permukaannya, ada pula yang tersenyum sambil menyusun buku-buku bergambar. Bagi mereka, meja dan kursi bukan sekadar perabot melainkan bagian dari harapan agar belajar menjadi lebih nyaman.

Hari itu, 20 Januari 2026, PT Indah Kiat Pulp & Paper (IKPP) Serang datang membawa lebih dari sekadar bantuan fisik. Perusahaan menyerahkan 40 set mebeler, kursi roda, kruk, mainan edukatif, puzzle, serta buku-buku pembelajaran untuk anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah tersebut.
Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh manajemen PT IKPP Serang, didampingi Camat dan Danramil Kragilan. Tak ada seremoni berlebihan. Yang ada justru percakapan singkat, senyum hangat, dan tatapan anak-anak yang tak lepas dari barang-barang baru di hadapan mereka.
Bagi Heppy Moiras, perwakilan manajemen PT IKPP Serang, pendidikan inklusif bukan sekadar istilah kebijakan. Ia melihatnya sebagai kebutuhan nyata yang harus disentuh secara langsung.
“Kami ingin anak-anak di sini bisa belajar dan beraktivitas dengan lebih nyaman,” ujarnya. Menurut Heppy, kehadiran perusahaan di tengah masyarakat seharusnya membawa manfaat yang bisa dirasakan, terutama di bidang pendidikan dan sosial.
Di sudut halaman sekolah, Yatmi Nur Agustinah, Kepala SKH Bina Citra Anak, mengamati murid-muridnya mencoba kursi roda baru. Sesekali ia tersenyum, lalu menghela napas lega. Selama ini, keterbatasan fasilitas menjadi tantangan tersendiri dalam mendampingi anak-anak dengan kebutuhan khusus.
“Bantuan ini sangat kami butuhkan,” kata Yatmi. Ia menyebut, peralatan yang diterima sekolah benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa, baik untuk kegiatan belajar maupun mobilitas mereka sehari-hari.
Sebagai ungkapan terima kasih, para siswa menyerahkan cendera mata sederhana: kerajinan tangan berbentuk bucket bunga. Benda itu mungkin tak sebanding nilainya dengan bantuan yang diterima, tetapi menyimpan cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan kemampuan anak-anak yang kerap dipandang sebelah mata.
Di SKH Bina Citra Anak, bantuan hari itu meninggalkan jejak yang lebih dalam dari sekadar barang. Ia menjelma menjadi pengakuan bahwa setiap anak, dengan segala keterbatasannya, tetap berhak atas ruang belajar yang layak dan masa depan yang dihargai.
